wellcome

ahlan wa sahlan be sabakatna
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

MENGIDENTIFIKASI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DI DALAM FULL DAY SCHOOL


1.      Pengertian  Full Day School
          Jika dilihat dari akar katanya, Full day school berasal dari bahasa Inggris full artinya penuh, day artiya hari,sedangkan school artinya sekolah, full day school artinya sekolah sepanjang hari. Full day adalah sekolah sepanjang hari proses belajar mengajar yang diberlakukan di pagi sampai dengan sore hari, dari jam 06.30- 15.30 WIB, dengan istirahat dua jam sekali. Dengan dimulainya jam sekolah pada pukul 06.30- 15.30 WIB sekolah bisa leluasa mengatur jadwal pelajaran yang mana disesuaikan dengan bobot pelajaran  dan ditambah dengan model-model pendalamannya.
             Sedangkan full day school menurut Sukur Basuki adalah sekolah yang sebagian waktunya digunakan unuk program-program pembelajaran yang suasananya informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa dan membutuhkan kreatifitas dan inovasi dari guru. Dalam hal ini Sukur berpatokan pada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa waktu belajar efektif bagi anak itu hanya 3-4 jam sehari (dalam suasana formal) dan 7-8 jam sehari (informal).Dalam full day school pelajaran yang dianggap sulit diletakkan di awal masuk sekolah dan pelajaran yang dianggap cukup mudah diletakkan pada sore hari. Karena pada sore hari siswa merasa lebih segar dan bersemangat, dengan demikian pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa akan mudah dicerna karena proses menerimanya dalam keadaan otak masih segar, namun pada sore hari siswa akan merasa lemas dan tidak bersemangat karena akifitas seharian, hal itu akan mempengaruhi kondisi fisik dan spikis siswa, karena itulah maa full day school ini diterapkan dengan istirahat 2 jam sekali.
          Dengan adanya sistem full school ini lamanya waktu pembelajaran tersebut tidak akan menjadi beban, karena sebagian waktunya digunakan untuk waktu-waktu informal. Dan pada sistem ini banyak pola dan metode dalam proses belajar dan mengajarnya, sistem pengajarannya tidak topdown atau monologis, karena dengan metode seperti ini mka yang terjadi guru mengajar dan murid diajar, guru mengetehui segalany dan murid tdak mengethui apa-apa, guru-guru berfikir dan murid dipikirkan, guru membaca dan murid mendengarkan, guru menentukan aturan dan murid diatur
         Disisi lain dalam sistem full day school ini menggunakan metode pengajaran dialogis dan  emansipatoris yang mana sikap ini menawarkan pengajaran yang memposisikan siswa sebagai subjek yang dominan dalam proses belajar mengajar, guru sebagai fasilitator dan menstimulator siswa terhadap mata pelajaran untuk dibahas dan diperdalam oleh siswa dalam sendirinya akan menumbuhkan budaya diskusi dan dialog. Sehingga dengan lamanya belajar siswa tidak akan jenuh.

2.      Tujuan Fullday School
Kenakalan remaja semakin hari semkin meningkat, hal ini dapat dilihat dari beberapa media masa dan koran-koran yang didalamnya tak jarang memuat tentang penyimpangan penyimpangan yang dilakukan oleh kaum pelajar seperti adanya seks bebas, minum- minuman keras dan konsumsi obat- obatan terlarang dan sebagainya. Hal ini akibat dari kurangnya control guru terutama orang tua, di samping itu juga akibat dari banyaknya waktu luang sepulang sekolah sehingga dibuat kesempatan siswa untuk melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat. Kenyataan seperti ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa, khususnya yang berasal dari dalam diri siswa, dan faktor tersebut digolongkan menjadi dua golongan, yaitu:
1.             Faktor fisiologis
Faktor fisiologis ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a.            Keadaan jasmani pada umumnya. Keadaan jasmani siswa mempengaruhi aktivitas belajar siswa, karena siswa yang kurang sehat jasmaninya yang diakibatkan kekurangan nutrisi akan mengganggu konsentrasi belajar siswa, siswa akan lebih mudah mengantuk, lesu, lelah dan sebagainya.
b.             Keadaan fungsi-fungsi jasmani terutama panca indra. Berfungsinya panca indera menjadi syarat bagi siswa untuk dapat belajar dengan baik. Dalam sistem persekolahan dewasa ini diantara panca indera yang memegang peranan penting dalam belajar adalah mata dan telinga. Karena itu menjadi kewajiban bagi siswa untuk menjaga jasmaninya terutama panca inderanya agar dapat berfungsi dengan baik sehingga siswa sendiri dapat belajar dengan baik pula.

2.             Faktor psikologis
Arden N. Frandsen mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang untuk belajar adalah sebagai berikut:
a.       Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.
b.      Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman.
c.       Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun kompetisi.
d.      Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran, dsb.
Melihat fenomena empiric di atas, maka muncullah full day school sebagai system pendidikan dengan berbagai alasan, diantaranya:
1.      Meningkatnya single parents dan banyaknya aktifitas orangtua yang kurang memberikan perhatian kepada anaknya terutama yang berhubungan dengan aktifitas anak-anak setelah pulang dari sekolah.
2.      Perubahan sosial, budaya yang terjadi dimasyarakat kita dari  masyarakat agraris menuju ke masyarakat teknologi. Dengan demikian kemajuan teknologi dan sain berjalan begitu cepat sehingga seorang siswa juga di tuntut untuk mengembangkan pola fikirnya.
3.      Semakin canggihnya dunia komunikasi, maka dunia seolah-seolah menjadi tanpa batas ( borderless world) yaitu dengan maraknya program televise dan play station yang mempengeruhi keseharian anak.
Dari kondisi itu, para praktisi pendidikan berpikir keras untuk merumuskan suatu paradigma baru dalam pendidikan. Maka diterapkanlah system full day school  dalam rangka memaksimlkan waktu luang anaak-anak agar lebih berguna. Maka secara terperinci tujuan diadakannya full day school adalah sebagai berikut:
1.      Pembentukan akhlak dan aqidah dalam menanamkan nilai nilai yang positif
2.      Mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai kholifah di bumi dan sebagai hamba Allah.
3.      Untuk memberikan dasar yang kuat dalam belajar di segala aspek
Disamping tujuan-tujuan diatas, sistem fullday school yang kebanyakan diterapkan di sekolah berbasis agama, juga memiliki nilai keunggulan tersendiri, diantaranya adalah:
a.       Anak mendapat pendidikan umum antisipasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
b.      Anak memperoleh pendidikan keislaman secara layak dan proporsional,
c.       Anak mendapatkan pendidikan kepribadian yang bersifat antisipasif terhadap perkembangan sosial budaya yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan globalisasi yang membutuhkan nilai saring,
d.      Potensi anak tersalurkan melalui kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler,
e.       Perkembangan minat, bakat, dan kecerdasan anak terantisipasi sejak dini melalui pantauan program bimbingan dan konseling.

3.      Full Day School dalam Perspektif Islam
Penerapan Fullday School sama sekali tidak bertentangan dengan tuntutan agama islam. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ayat Al-Qur’an maupun al hadits yang menganjurkan untuk mencari ilmu. Bahkan ayat yang pertama turun kepada nabi Muhammad adalah surat al ‘Alaq yang artinya:
     
           bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakanmu.
             Disamping itu di dalam hadist nabi Muhammad memerintahkan kepada kita untuk belajar tanpa batas dimanapun dan kapanpun. Berikut hadits Nabi:
اطلب العلم من المهد إلى اللحد

Artinya: “tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahat”
Ayat dan hadits diatas merupakan seruan dari Allah kepada manusia baik laki-laki maupun perempuan agar tidak menyia-nyiakan waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Full day School merupakan manifestasi dari belajar tanpa batas. Mengacu pada ayat di atas bahwa dalam system Full day School siswa dihadapkan pada aktifitas-aktifitas belajar yang menguntungkan selama sehari penuh, sehingga siswa tidak ada waktu luang untuk melakukan aktifitas-aktifitas yang sifatnya negative dan kurang menguntungkan.
        Mempersiapkan anak hidup pada masanya adalah kewajiban semua pihak, termasuk di dalamnya orang tua, sekolah, guru, masyarakat, dan pemerintah. Factor yang sangat menentukan dalam mempersiapkan generasi mendatang adalah lingkungan dan pendidikan dimana anak tumbuh dan berkembang. Oleh karenanya perlu disiapkan pola pendidikan yang dapat mengembangkan fitrah manusia dan fungsi manusia serta lingkungan yang mendukung upaya pencapaian tersebut.

4.      Pelaksanaan sistem Pembelajaran Fullday School
Program sekolah sepanjang hari (fullday school) merupakan program pendidikan yang seluruh aktivitasnya berada di sekolah sepanjang hari (sejak pagi sampai sore).
Dalam penerapannya, fullday school perlu dilengkapi program rekreatif dalam pembelajaran agar tidak timbul kebosanan bagi siswa. Program tersebut juga perlu dilengkapi sistem komunikasi serta koordinasi antara sekolah dengan orang tua di rumah melalui buku penghubung karena dalam fullday school anak menghabiskan banyak waktu di sekolah, harus diupayakan agar guru merupakan uswatun hasanah, menjadi contoh dan model perilaku sosial, emosional, serta spiritual yang baik bagi anak.
Untuk itu, sekolah yang melaksanakan fullday school perlu mempertimbangkan, antara lain:
1.          Kesiapan atau ketersediaan prasarana-sarana dan kesiapan fisik lainnya
2.          Pola manajemen sekolah (MBS)
3.          Penerapan pembelajaran berciri pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM)
4.          Memahami pengaruh perubahan pola belajar dan pola hidup siswa
5.          Melakukan sosialisasi kepada orang tua dan masyarakat.
Intinya, implikasi fullday school perlu memperhatikan kenyamanan siswa dalam melaksanakan pembelajaran dan kenyamanan orang tua/masyarakat dalam menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada sekolah untuk memaksimalkan seluruh potensi siswa serta mengefektifkan waktu belajarnya.
Untuk itu, perlu ada sosialisasi yang melibatkan sekolah, orang tua, serta masyarakat agar terjadi harmonisasi yang baik antara sekolah, masyarakat, dan orang tua.
5.      Perkembangan Siswa di dalam Fullday School
        Model pembelajaran full day school marak diselenggarakan di berbagai kota besar. Model pembelajaran full day school ini diadakan agar bermanfaat untuk pengembangan anak dan menolong para orangtua yang sibuk. Memang, tidak butuh biaya yang sedikit untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang menggunakan sistem fullday school, akan tetapi hal ini dilakukan semata untuk menjaga anak-anak mereka dari dunia luar yang kurang bermanfaat apabila telah selesai belajar di sekolah. Para orang tua beranggapan jika anak mereka belajar seharian di sekolah, mereka akan lebih tenang dan aman jika anak-anaknya berada di sekolah daripada keluyuran ke luar rumah setelah jam sekolah.
           Di Malang terdapat beberapa sekolah dengan model full day school. Di antaranya adalah SD Islam Sabilillah, dan SMP Islam Sabilillah. Becik, guru di SMP Sabilillah Malang mengungkapkan bahwa SMP Sabillilah dibuka sejak 2003, dan baru meluluskan satu angkatan. Saat ini SMP Sabilillah memiliki sekitar 300 siswa.
          Muncul kontroversi terkait dengan perkembangan siswa di dalam pembelajaran fullday school. Beberapa pakar pendidikan ada yang mendukung adanya sistem fullday school, dan sebagian lagi yang tidak setuju dengan sistem tersebut. Salah satu pakar pendidikan yang kurang mendukung penerapan full day school adalah Dr. H. Imron Arifin M.Pd, dosen Universitas Negeri Malang. Dia menyatakan bahwa konsep fullday school berasal dari negara-negara maju seperti jepang, negara Eropa, dan Amerika, dimana para siswanya mendapat lebih banyak hari libur. Pada musim panas dan musim dingin, misalnya, mereka libur masing-masing bisa sampai dua bulan. Karena banyak liburnya, para siswa di negara-negara itu disarankan mendapat pelajaran tambahan. Akhirnya, banyak sekolah menerapkan sistem fullday school. Kondisi itu berbeda dengan di Indonesia yang tidak mengenal libur musim panas dan musim dingin, sehingga ketika sistem fullday school tersebut diadaptasi di Indonesia, terjadi kekurangtepatan sistem. Namun, disisi lain Imron Arifin, tidak mengelak jika penerapan sistem full day school memiliki sisi positif dan negatifnya. Diantara sisi positif terhadap penerapan sistem fullday school adalah:
a.      Dapat mengefektifkan waktu belajar siswa dan memaksimalkan seluruh potensi siswa, sehingga siswa akan mendapat banyak keuntungan secara akademis dibandingkan dengan anak-anak yang half day  school.
b.      Orang tua tidak khawatir terhadap keberadaan putra-putrinya, antara lain pengaruh negatif kegiatan anak di luar sekolah dapat dikurangi seminimal mungkin karena waktu pendidikan anak di sekolah lebih lama, terencana dan terarah.
c.      Adanya perpustakaan di sekolah yang representatif dengan suasana nyaman dan enjoy sangat membantu peningkatan prestasi belajar anak.
d.     Dapat meningkatkan kualitas/mutu pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan.
e.      Bagi guru, guru bisa langsung mengawasi dan menilai kemampuan siswa di bidang edukatifnya.
f.     Dapat mengakrabkan siswa dengan guru, karena guru adalah salah satu motivator siswa dalam belajar.
           
         Disamping memiliki respon positif, beberapa para pakar pendidikan, orang tua siswa maupun masyarakat yang menyatakan kurang setuju dengan diadakannya sistem fullday school di Indonesia. Berikut adalah sisi negatif yang diungkapkan oleh masyarakat (termasuk para orang tua):
a.  anak akan menjadi semakin tercerabut dari budaya daerahnya sendiri karena tidak ada waktu lebih untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
b.  Bisa menanamkan rasa individual yang semakin tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
c.  Kognitif sosialnya tidak terasah dengan baik karena tidak beragamnya ruang interaksi bagi mereka.
d.      Walaupun nantinya muncul berbagai system pendidikan yang baik bagi anak, dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan, tapi bila tidak ada perhatian, pendampingan dan kasih sayang dari orang tua, maka pendidikan itu tetap akan kurang bagi proses perkembangan mereka.
e.       Ketika anak merasa jenuh, apalagi jika bermasalah dengan guru, mereka akan stress, dan  jika mengalami kelalahan fisik, mereka bisa sakit. Guru pun bisa mengalami kelelahan, sehingga mengalami kesulitan mengembangkan diri.
f.       Dianggap sebagai suatu sistem pendidikan yang hanya meunggulkan nilai akademisnya saja, dan tidak memperhatikan nilai-nilai kejiwaan yang lainnya. 

        Dalam ilmu psikologi, pendidikan merupakan applied dari psikologi yang tidak boleh menonjolkan salah satu fungsi saja dari kejiwaan anak. Misalnya, jika  yang ditonjolkan fungsi pikir saja maka akan cenderung ke intelektualitas, dan jika yang ditonjolkan fungsi rasanya saja maka akan cenderung ke emosionalitas. Oleh karena itu, perlu upaya untuk mengintegrasikan dan mengharmoniskan fungsi-fungsi kejiwaan anak tersebut dalam proses pembentukan kejiwaan (pendidikan) anak.


Minggu, 18 Desember 2011

Bimbingan terhadap Anak yang Lambat Belajar dan Anak yang Cepat Belajar

A.    Pengertian Anak Lambat Belajar dan Anak Cepat belajar
1.      Pengertian Anak Lambat Belajar
Anak lambat belajar adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lambat belajar antara lain karena masalah konsentrasi, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional.
Anak yang lambat belajar bisa juga dikatakan sebagai anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Kesulitan belajar (learning difficulty) merupakan suatu konsep multidisipliner yang digunakan pada lapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran. Kesulitan belajar didasarkan atas suatu kondisi dari belajar yang terganggu untuk mencapai hasil belajar. Hal tersebut disebabkan oleh faktor fisik, sosial, maupun psikologi.[1]
Definisi mengenai kesulitan belajar akan tampak dalam gejala aspek-aspek kognitif, motorik, dan efektif dalam proses maupun hasil belajar yang dicapai. Ciri-ciri tingkah laku yang merupakan pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar.[2]

2.      Pengertian Anak Cepat Belajar
Murid cepat belajar adalah murid yang cepat sekali dalam menerima, memahami, dan menguasai pelajaran yang diberikan kepadanya dengan prestasi yang baik sekali dalam semua pelajaran. Sehingga hasil prestasi belajar yang dicapai dapat dilihat pada rapor dan nilai ujian akhirpun baik sekali.[3]
Mereka ini umumnya mempunyai intelegensi tinggi. Tetapi sebaliknya murid yang mempunyai intelegensi tinggi belum tentu merupakan murid cepat belajar. Intelegensi adalah kemampuan untuk memudahkan penyesuaian secara tepat terhadap berbagai segi dari keseluruhan lingkungan seseorang.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa murid cepat belajar adalah:
1)      Murid yang pada umumnya mempunyai intelegensi tinggi.
2)      Murid yang cepat sekali menerima, menguasai, dan memahami serta memproduksi pelajaran yang diterimanya.
3)      Murid yang rengking hasil rata-rata prestasi akademisnya tinggi.
4)      Murid yang sikap, kerajinan, kebersihan dan kesehatannya baik.[4]

B.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anak yang Lambat dan Cepat Belajar
1.      Faktor yang Mempengaruhi Anak Lambat Belajar
Kesulitan belajar biasanya terjadi pada siswa yang berkemampuan rendah dan mengalami kelambatan dalam belajar. Anak yang lambat dalam belajar akan tampak jelas dari menurunnya kinerja akademis atau prestasi belajar. Lambatnya belajar siswa dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) seperti terlalu diam di kelas (karena tidak mengerti meteri pelajaran), suka mengusik atau mengganggu teman, suka berkelahi, sering tidak masuk kelas, serta membolos pada waktu pelajaran.
Guru harus mengidentifikasi kemungkinan sebab-sebab kesulitan belajar siswa. Koestoer mengidentifikasi kemungkinan sebab lambatnya belajar siswa berdasar empat kategori,[5] yaitu:
a.       Kondisi sosiologis yang permanen
b.      Kondisi sosiologis yang temporer
c.       Pengaruh-pengaruh lingkungan sosial yang permanen
d.      Pengaruh leingkungan sosial yang temporer
Menurut Muzayyin Arifin, fakta-fakta kehidupan yang menjadi masalah adalah hal-hal berikut, diantaranya:[6]
a.       Masalah kesulitan dan kegagalan belajar.
b.      Masalah sosial dalam keluarga, sesama teman, dengan guru/sekolah, atau dengan masyarakat.
c.       Masalah yang bersifat pribadi.
d.      Masalah pekerjaan, hari depan, waktu senggang, percintaan, emosi, status, dan sebagainya.
e.       Masalah nilai-nilai moral agama.
Bantuan penyuluhan dapat diselenggarakan secara rutin ataupun insidental sesuai dengan situasi. Demikian pula mengenai teknik yang dipergunakan dapat disesuaikan dengan situasi dan masalah.

2.      Faktor yang Mempengaruhi Anak Cepat Belajar
Adapun faktor yang mempengaruhi anak yang cepat belajar adalah tingkat intelegensinya yang di atas rata-rata, atau melebihi batas sewajarnya dari anak yang normal lainnya. Anak yang lebih cepat dalam belajar biasa disebut dengan anak yang jenius.
Tidak hanya anak yang lambat belajar saja yang memerlukan bimbingan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak yang cepat dalam belajar juga perlu adanya bimbingan.
Sifat-sifat dari murid cepat belajar berbeda jauh dengan murid-murid lainnya, hal itu akan dapat dinilai oleh konselor. Adapun ciri-ciri anak yang cepat belajar yang membedakan dengan anak yang lainnya adalah sebagai berikut:
a.       Sebelum bersekolah:
1)      murid cepat belajar,ketika belajar berjalan lebih awal dari pada anak average (rata-rata)
2)      perkembangan bicaranya dimulai lebih awal dan berkembang lebih cepat
3)      Paling tidak 50% dari murid cepat belajar dapat membaca sebelum masuk sekolah.[7]
b.      Setelah masuk sekolah:
1)      Murid cepat belajar rajin ke sekolah, karena harus ke sekolah, karena haus akan ilmu pengetahuan.
2)      Murid cepat belajar senang mengikuti aktivitas-aktivitas ekstra kurikuler.
3)      Jika ia diberi kesempatan untuk memilih mata pelajaran maka ia akan memilih mata pelajaran yang berat-berat.
4)      Kemampuan mentalnya yang superior ditunjukkan pada kecakapanya dalam membaca, mampu menarik generalisasi-generalisasi, mengenal hubungan-hubungan, meng-komprehensipkan pengertian dan mampu berfikir logis.
5)      Fisiknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
6)      Kurang sabar dengan prosedur-prosedur rutin, memerlukan metode belajar yang efisien tetapi mampu kerja dengan baik.
7)      Kecakapan dalam berbagai hal ditunjukkan dari berbagai minat, lebih aktif dan rasa ingin tahu tentang hal-hal beru lebih besar. Ia memiliki pemikiran yang luas dan kemampuan mengkritik diri sendiri.[8]

C.    Bimbingan terhadap Anak yang Lambat dan Cepat Belajar
1.      Bimbingan Anak Lambat Belajar
Jika seorang anak mengalami kesulitan belajar sehingga cenderung lambat dalam belajar, seharusnya anak tersebut tidak ditinggalkan dan diabaikan, tetapi sang anak haruslah mendapatkan perhatian khusus dari seorang guru dan lingkungannya. Maka, seorang guru tidak harus mengucilkan atau meremehkan anak yang lambat dalam belajar. Adapun usaha dalam membimbing anak yang lambat belajar adalah sebagai berikut.
a.       Pola pengajaran terstruktur.
Dengan berpedoman pada perlunya pengajaran ilmu agar lebih berhasil, maka ditekankan perlunya:
1)      Tujuan-tujuan instruksional yang harus dicapai ditetapkan secara tegas. Tujuan-tujuan ini dirangkaikan dalam materi pelajaran dibagi atas unit-unit pelajaran yang diurutkan sesuai dengan rangkaian tujuan instruksional.
2)      Supaya siswa mencapai tujuan instruksional yang pertama lebih dahulu, sebelum siswa diperbolehkan mempelajari unit pelajaran yang baru untuk mencapai tujuan instruksional yang kedua, tujuan instruksional yang kedua harus tercapai lebuh dahulu sebelum siswa melanjutkan meteri berikutnya.
3)      Ditingkatkan motivasi belajar siswa dan efektivitas hasil belajar siswa, serta memberikan umpan balik mengenai keberhasilan atau kegagalannya pada saat itu juga atau testing formatif.
b.      Mengefektifkan program pengajaran remedial.
Pengajaran remidial (renidila teching) bertolak dan konsep belajar tuntas (mastery learning),[9] yang ditandai oleh sistem pembelajaran dengan menggunakan modul. Pengajaran remidial pada hakikatnya merupakan kewajiban bagi semua guru setelah mereka melakukan evaluasi formatif karena secara umum keseluruhan sistem pendidikan bertujuan untuk mengubah tingkah laku peserta didik.[10]
Untuk lebih mengefektifkan progran pengajaran remidial sangat dibutuhkan peran aktif guru. Fungsi guru dalam pengajaran remidial berperan sebagai “fungsi preventif”, yakni mencegah terjadinya kesulitan belajar siswa. Guru harus memiliki strategi-strategi yang jitu dan efektif ketika mengajar sehingga proses belajar menjadi nayaman, menyenangkan, enjoy, dan tidak membosankan. Selain itu sesuai dengan fungsi guru sebagai konselor, guru harus memberikan bimbingan yang bersifat kuratif (penyembuhan), yaitu dengan pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling dan remedial teaching.[11]
Kesulitan belajar siswa tidak selalu disebabkan oleh tingkat IQ yang rendah atau kemalasan siswa saja, tetapi bisa juga disebabkan oleh kurangnya strategi yang menarik dari guru dalam proses penyampaian materi. Sekali lagi perlu ditekankan bahawa perlunya bagi guru untuk memilih strategi pembelajaran menyangkut strstegi dan metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan kompetensi.[12]

2.      Bimbingan Anak Cepat Belajar
Untuk memberikan layanan bimbingan secara tepat, maka perlu bagi guru atau konselor mengetahui latar belakang pribadi kehidupan dimasa lampau, sekarang dan harapannya pada masa yang akan datang.
Untuk mengatasi masalah yang dihadapi murid cepat belajar, maka guru harus mengadakan usaha-usaha penyaluran, pengadaptasian, penyesuaian. Cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi masing-masing murid cepat belajar adalah:
1)        Pelayanan bimbingan pendidikan
a)        Usaha penyaluran, untuk menyalurkan kemampuan murid yang cepat belajar dan mengisi kelebihan waktu dikelas digunakan system pengajaran modul dan pengelompokan mata pelajaran mayor dan pilihan:
1.    Sistem pengajaran modul
2.    Menyediakan mata pelajaran pilihan
b)      Sistem pengadaptasian, konselor berusaha memberikan informasi dan tafsiran dari informasi tentang sifat-sifat dan kebiasaan, kemampuan dan kebutuhan murid cepat belajar kepada guru, agar guru dapat memilih metode mengajar yang sesuai dengan sifat-sifat kebiasaan, kemampuan dan kebutuhan murid tersebut.
c)      Usaha penyesuaian
1.      Meningkatkan motifasi belajar
2.      Menghilangkan kecemasan dan kekhawatiranya jika tidak dapat melanjutkan studinya
3.      Menyadarkan bahwa semua mata pelajaran itu penting
4.      Memperbaiki sikap dan kebiasaan buruknya dikelas
5.      Case conference, yaitu membicarakan bersama-sama guru tentang tingkah laku murid cepat belajar yang berkebiasaan buruk
2)      Pelayanan bimbingan social
a)      Usaha penyaluranya adalah:
1.      Untuk murid yang apatis
a.       Menempatkan dalam kelompok penyelesaian modul
b.      Mengaktifkan dalam kelompok dirumah
c.       Mengikuti kelompok diskusi, kelompok wisata belajar
d.      Mengikutkan kedalam kepramukaan, camping dll
2.      Untuk murid yang dinamis
Masalah sosial untuk murid sebenarnya berhubungan erat dengan kedisiplinan mengikuti pelajaran. Karena itu layanan secara khusus dalam bimbingan sosial tidak perlu dikemukakan secara eksplisit. Untuk memenuhi maksud-maksud memperbaiki sosialnya telah dipenuhi dengan layanan bimbingan pendidikan terhadapnya.
3)      Pelayanan bimbingan ekonomi
a)      Masalah social ekonomi untuk murid yang penghasilan orang tuanya rendah. Masalah ini menyebabkan motifasi belajar murid menurun, timbul rasa cemas, takut tidak dapat melanjutkan studi sehingga menjadi minder.
b)      Masalah social ekonomi untuk murid yang mempunyai kecenderungan murid yang banyak mengeluarkan uang untuk biaya sekolah.


4)      Pelayanan bimbingan emosi
Dari masalah ekonomi tersebut maka murid yang penghasilan orang tuanya rendah nampak lebih serius problema emosionalnya, sedang untuk murid yang orang taunya mempunyai penghasilan cukup lebih berkuarang emosionalnya. Diharapkan dengan layanan bimbingan pendidikan, social dan ekonomi maka problem emosional tersebut dapat diatasi. Jika tidak pelaksanaan layanan konseling, role playing, sosiodrama dan psikokrama harus dilakukan lebih intensif.
Virget S. Ward menyatakan bahwa pendidikan bagi anak-anak cepat belajar perlu perhatian seksama. Dia menganjurkan argumentasi sebagai berikut: [13]
a)      Perlunya program khusus untuk anak cepat belajar
b)      Dibutuhkan teori tentang pengalaman pendidikan, mana praktek pendidikan yang berhasil dan mana praktik pendidikan yang gagal untuk anak-anak cepat belajar.
Bimbingan sebagaimana yang telah dirumuskan, diharapkan mampu menyentuh setiap segi kepribadian individu baik fisik, mental, dan sosial. Hal tersebut berfungsi mengintergrasikan semua aktifitas individu yang berhubungan dengan semua sikap dan pola perilaku individu dengan menggunakan semua potensi yang ada pada dirinya agar  berguna bagi dirinya dan lingkungan yang ada disekitarnya.
Fungsi utama dari bimbingan di sekolah tidak hanya membantu peserta didik dalam mengatasi masalah pribadinya yang berhubungan dengan pendidikan, tetapi juga fungsi bimbingan dengan usaha pemberian bantuan kepada individu agar mereka mampu mengatasi masalahnya dengan baik.[14] Dengan demikian, diharapkan melalui bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswa dapat mengatasi masalah-masalah terkati denga siswa yang  lambat belajar maupun yang lebih cepat dalam belajar.


[1] Prof. Dr. H. Baharuddin. M. Pd. I. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan (Jogjakarta: ar-Ruzz Media, 2009), hlm. 177-178.
[2] Drs. Mulyadi, M. Pd. I., Diagnosis dan Pemecahan Kesulitan Belajar, (Malang: Shefa, 2003), hlm. 6.
[3] Drs. Mulyadi, M. Pd.I. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Khusus (Yogyakarta: Nuha Litera, 2008), hlm.131-132.
[4] Dra. Sutratinah Tirtonegoro, Anak Supernormal dan program pendidikannya, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1984), hlm. 132.
[5] Prof. Dr. H. Baharuddin. M. Pd. I. Loc. Cit., hlm. 178.
[6] Prof. H. Muzayyin Arifin, M. Ed., Kapita Selekta Pendidikan Islam, A. Syafi’i, ed. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009), hlm. 186-187.
[7] Dra. Sutratinah Tirtonegoro, Op. Cit., hlm. 133.
[8] Ibid., hlm. 133-134.
[9] Mulyono Abdurrahman, pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar (Jakarta: Rineka Rineka Cipta, 1999), hlm.30.
[10] Langveld, M. J. Paedagogik Teoritis – Sistematik (Tanpa Tahun dan Terbitan), hlm. 65.
[11] Dr. H. Farid Hasyim, M. Ag. dan Mulyono, MA., Bimbingan dan Konseling Religius, (Jogjakarta: ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 61.
[12] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pndidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), hlm. 21.
[13] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1992), hlm.18
[14] Dr. H. Farid Hasyim, M. Ag. dan Mulyono, MA. Op. Cit., hlm. 60.