wellcome

ahlan wa sahlan be sabakatna

Minggu, 18 Desember 2011

Bimbingan terhadap Anak yang Lambat Belajar dan Anak yang Cepat Belajar

A.    Pengertian Anak Lambat Belajar dan Anak Cepat belajar
1.      Pengertian Anak Lambat Belajar
Anak lambat belajar adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lambat belajar antara lain karena masalah konsentrasi, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional.
Anak yang lambat belajar bisa juga dikatakan sebagai anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Kesulitan belajar (learning difficulty) merupakan suatu konsep multidisipliner yang digunakan pada lapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran. Kesulitan belajar didasarkan atas suatu kondisi dari belajar yang terganggu untuk mencapai hasil belajar. Hal tersebut disebabkan oleh faktor fisik, sosial, maupun psikologi.[1]
Definisi mengenai kesulitan belajar akan tampak dalam gejala aspek-aspek kognitif, motorik, dan efektif dalam proses maupun hasil belajar yang dicapai. Ciri-ciri tingkah laku yang merupakan pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar.[2]

2.      Pengertian Anak Cepat Belajar
Murid cepat belajar adalah murid yang cepat sekali dalam menerima, memahami, dan menguasai pelajaran yang diberikan kepadanya dengan prestasi yang baik sekali dalam semua pelajaran. Sehingga hasil prestasi belajar yang dicapai dapat dilihat pada rapor dan nilai ujian akhirpun baik sekali.[3]
Mereka ini umumnya mempunyai intelegensi tinggi. Tetapi sebaliknya murid yang mempunyai intelegensi tinggi belum tentu merupakan murid cepat belajar. Intelegensi adalah kemampuan untuk memudahkan penyesuaian secara tepat terhadap berbagai segi dari keseluruhan lingkungan seseorang.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa murid cepat belajar adalah:
1)      Murid yang pada umumnya mempunyai intelegensi tinggi.
2)      Murid yang cepat sekali menerima, menguasai, dan memahami serta memproduksi pelajaran yang diterimanya.
3)      Murid yang rengking hasil rata-rata prestasi akademisnya tinggi.
4)      Murid yang sikap, kerajinan, kebersihan dan kesehatannya baik.[4]

B.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anak yang Lambat dan Cepat Belajar
1.      Faktor yang Mempengaruhi Anak Lambat Belajar
Kesulitan belajar biasanya terjadi pada siswa yang berkemampuan rendah dan mengalami kelambatan dalam belajar. Anak yang lambat dalam belajar akan tampak jelas dari menurunnya kinerja akademis atau prestasi belajar. Lambatnya belajar siswa dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) seperti terlalu diam di kelas (karena tidak mengerti meteri pelajaran), suka mengusik atau mengganggu teman, suka berkelahi, sering tidak masuk kelas, serta membolos pada waktu pelajaran.
Guru harus mengidentifikasi kemungkinan sebab-sebab kesulitan belajar siswa. Koestoer mengidentifikasi kemungkinan sebab lambatnya belajar siswa berdasar empat kategori,[5] yaitu:
a.       Kondisi sosiologis yang permanen
b.      Kondisi sosiologis yang temporer
c.       Pengaruh-pengaruh lingkungan sosial yang permanen
d.      Pengaruh leingkungan sosial yang temporer
Menurut Muzayyin Arifin, fakta-fakta kehidupan yang menjadi masalah adalah hal-hal berikut, diantaranya:[6]
a.       Masalah kesulitan dan kegagalan belajar.
b.      Masalah sosial dalam keluarga, sesama teman, dengan guru/sekolah, atau dengan masyarakat.
c.       Masalah yang bersifat pribadi.
d.      Masalah pekerjaan, hari depan, waktu senggang, percintaan, emosi, status, dan sebagainya.
e.       Masalah nilai-nilai moral agama.
Bantuan penyuluhan dapat diselenggarakan secara rutin ataupun insidental sesuai dengan situasi. Demikian pula mengenai teknik yang dipergunakan dapat disesuaikan dengan situasi dan masalah.

2.      Faktor yang Mempengaruhi Anak Cepat Belajar
Adapun faktor yang mempengaruhi anak yang cepat belajar adalah tingkat intelegensinya yang di atas rata-rata, atau melebihi batas sewajarnya dari anak yang normal lainnya. Anak yang lebih cepat dalam belajar biasa disebut dengan anak yang jenius.
Tidak hanya anak yang lambat belajar saja yang memerlukan bimbingan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak yang cepat dalam belajar juga perlu adanya bimbingan.
Sifat-sifat dari murid cepat belajar berbeda jauh dengan murid-murid lainnya, hal itu akan dapat dinilai oleh konselor. Adapun ciri-ciri anak yang cepat belajar yang membedakan dengan anak yang lainnya adalah sebagai berikut:
a.       Sebelum bersekolah:
1)      murid cepat belajar,ketika belajar berjalan lebih awal dari pada anak average (rata-rata)
2)      perkembangan bicaranya dimulai lebih awal dan berkembang lebih cepat
3)      Paling tidak 50% dari murid cepat belajar dapat membaca sebelum masuk sekolah.[7]
b.      Setelah masuk sekolah:
1)      Murid cepat belajar rajin ke sekolah, karena harus ke sekolah, karena haus akan ilmu pengetahuan.
2)      Murid cepat belajar senang mengikuti aktivitas-aktivitas ekstra kurikuler.
3)      Jika ia diberi kesempatan untuk memilih mata pelajaran maka ia akan memilih mata pelajaran yang berat-berat.
4)      Kemampuan mentalnya yang superior ditunjukkan pada kecakapanya dalam membaca, mampu menarik generalisasi-generalisasi, mengenal hubungan-hubungan, meng-komprehensipkan pengertian dan mampu berfikir logis.
5)      Fisiknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
6)      Kurang sabar dengan prosedur-prosedur rutin, memerlukan metode belajar yang efisien tetapi mampu kerja dengan baik.
7)      Kecakapan dalam berbagai hal ditunjukkan dari berbagai minat, lebih aktif dan rasa ingin tahu tentang hal-hal beru lebih besar. Ia memiliki pemikiran yang luas dan kemampuan mengkritik diri sendiri.[8]

C.    Bimbingan terhadap Anak yang Lambat dan Cepat Belajar
1.      Bimbingan Anak Lambat Belajar
Jika seorang anak mengalami kesulitan belajar sehingga cenderung lambat dalam belajar, seharusnya anak tersebut tidak ditinggalkan dan diabaikan, tetapi sang anak haruslah mendapatkan perhatian khusus dari seorang guru dan lingkungannya. Maka, seorang guru tidak harus mengucilkan atau meremehkan anak yang lambat dalam belajar. Adapun usaha dalam membimbing anak yang lambat belajar adalah sebagai berikut.
a.       Pola pengajaran terstruktur.
Dengan berpedoman pada perlunya pengajaran ilmu agar lebih berhasil, maka ditekankan perlunya:
1)      Tujuan-tujuan instruksional yang harus dicapai ditetapkan secara tegas. Tujuan-tujuan ini dirangkaikan dalam materi pelajaran dibagi atas unit-unit pelajaran yang diurutkan sesuai dengan rangkaian tujuan instruksional.
2)      Supaya siswa mencapai tujuan instruksional yang pertama lebih dahulu, sebelum siswa diperbolehkan mempelajari unit pelajaran yang baru untuk mencapai tujuan instruksional yang kedua, tujuan instruksional yang kedua harus tercapai lebuh dahulu sebelum siswa melanjutkan meteri berikutnya.
3)      Ditingkatkan motivasi belajar siswa dan efektivitas hasil belajar siswa, serta memberikan umpan balik mengenai keberhasilan atau kegagalannya pada saat itu juga atau testing formatif.
b.      Mengefektifkan program pengajaran remedial.
Pengajaran remidial (renidila teching) bertolak dan konsep belajar tuntas (mastery learning),[9] yang ditandai oleh sistem pembelajaran dengan menggunakan modul. Pengajaran remidial pada hakikatnya merupakan kewajiban bagi semua guru setelah mereka melakukan evaluasi formatif karena secara umum keseluruhan sistem pendidikan bertujuan untuk mengubah tingkah laku peserta didik.[10]
Untuk lebih mengefektifkan progran pengajaran remidial sangat dibutuhkan peran aktif guru. Fungsi guru dalam pengajaran remidial berperan sebagai “fungsi preventif”, yakni mencegah terjadinya kesulitan belajar siswa. Guru harus memiliki strategi-strategi yang jitu dan efektif ketika mengajar sehingga proses belajar menjadi nayaman, menyenangkan, enjoy, dan tidak membosankan. Selain itu sesuai dengan fungsi guru sebagai konselor, guru harus memberikan bimbingan yang bersifat kuratif (penyembuhan), yaitu dengan pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling dan remedial teaching.[11]
Kesulitan belajar siswa tidak selalu disebabkan oleh tingkat IQ yang rendah atau kemalasan siswa saja, tetapi bisa juga disebabkan oleh kurangnya strategi yang menarik dari guru dalam proses penyampaian materi. Sekali lagi perlu ditekankan bahawa perlunya bagi guru untuk memilih strategi pembelajaran menyangkut strstegi dan metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan kompetensi.[12]

2.      Bimbingan Anak Cepat Belajar
Untuk memberikan layanan bimbingan secara tepat, maka perlu bagi guru atau konselor mengetahui latar belakang pribadi kehidupan dimasa lampau, sekarang dan harapannya pada masa yang akan datang.
Untuk mengatasi masalah yang dihadapi murid cepat belajar, maka guru harus mengadakan usaha-usaha penyaluran, pengadaptasian, penyesuaian. Cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi masing-masing murid cepat belajar adalah:
1)        Pelayanan bimbingan pendidikan
a)        Usaha penyaluran, untuk menyalurkan kemampuan murid yang cepat belajar dan mengisi kelebihan waktu dikelas digunakan system pengajaran modul dan pengelompokan mata pelajaran mayor dan pilihan:
1.    Sistem pengajaran modul
2.    Menyediakan mata pelajaran pilihan
b)      Sistem pengadaptasian, konselor berusaha memberikan informasi dan tafsiran dari informasi tentang sifat-sifat dan kebiasaan, kemampuan dan kebutuhan murid cepat belajar kepada guru, agar guru dapat memilih metode mengajar yang sesuai dengan sifat-sifat kebiasaan, kemampuan dan kebutuhan murid tersebut.
c)      Usaha penyesuaian
1.      Meningkatkan motifasi belajar
2.      Menghilangkan kecemasan dan kekhawatiranya jika tidak dapat melanjutkan studinya
3.      Menyadarkan bahwa semua mata pelajaran itu penting
4.      Memperbaiki sikap dan kebiasaan buruknya dikelas
5.      Case conference, yaitu membicarakan bersama-sama guru tentang tingkah laku murid cepat belajar yang berkebiasaan buruk
2)      Pelayanan bimbingan social
a)      Usaha penyaluranya adalah:
1.      Untuk murid yang apatis
a.       Menempatkan dalam kelompok penyelesaian modul
b.      Mengaktifkan dalam kelompok dirumah
c.       Mengikuti kelompok diskusi, kelompok wisata belajar
d.      Mengikutkan kedalam kepramukaan, camping dll
2.      Untuk murid yang dinamis
Masalah sosial untuk murid sebenarnya berhubungan erat dengan kedisiplinan mengikuti pelajaran. Karena itu layanan secara khusus dalam bimbingan sosial tidak perlu dikemukakan secara eksplisit. Untuk memenuhi maksud-maksud memperbaiki sosialnya telah dipenuhi dengan layanan bimbingan pendidikan terhadapnya.
3)      Pelayanan bimbingan ekonomi
a)      Masalah social ekonomi untuk murid yang penghasilan orang tuanya rendah. Masalah ini menyebabkan motifasi belajar murid menurun, timbul rasa cemas, takut tidak dapat melanjutkan studi sehingga menjadi minder.
b)      Masalah social ekonomi untuk murid yang mempunyai kecenderungan murid yang banyak mengeluarkan uang untuk biaya sekolah.


4)      Pelayanan bimbingan emosi
Dari masalah ekonomi tersebut maka murid yang penghasilan orang tuanya rendah nampak lebih serius problema emosionalnya, sedang untuk murid yang orang taunya mempunyai penghasilan cukup lebih berkuarang emosionalnya. Diharapkan dengan layanan bimbingan pendidikan, social dan ekonomi maka problem emosional tersebut dapat diatasi. Jika tidak pelaksanaan layanan konseling, role playing, sosiodrama dan psikokrama harus dilakukan lebih intensif.
Virget S. Ward menyatakan bahwa pendidikan bagi anak-anak cepat belajar perlu perhatian seksama. Dia menganjurkan argumentasi sebagai berikut: [13]
a)      Perlunya program khusus untuk anak cepat belajar
b)      Dibutuhkan teori tentang pengalaman pendidikan, mana praktek pendidikan yang berhasil dan mana praktik pendidikan yang gagal untuk anak-anak cepat belajar.
Bimbingan sebagaimana yang telah dirumuskan, diharapkan mampu menyentuh setiap segi kepribadian individu baik fisik, mental, dan sosial. Hal tersebut berfungsi mengintergrasikan semua aktifitas individu yang berhubungan dengan semua sikap dan pola perilaku individu dengan menggunakan semua potensi yang ada pada dirinya agar  berguna bagi dirinya dan lingkungan yang ada disekitarnya.
Fungsi utama dari bimbingan di sekolah tidak hanya membantu peserta didik dalam mengatasi masalah pribadinya yang berhubungan dengan pendidikan, tetapi juga fungsi bimbingan dengan usaha pemberian bantuan kepada individu agar mereka mampu mengatasi masalahnya dengan baik.[14] Dengan demikian, diharapkan melalui bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswa dapat mengatasi masalah-masalah terkati denga siswa yang  lambat belajar maupun yang lebih cepat dalam belajar.


[1] Prof. Dr. H. Baharuddin. M. Pd. I. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan (Jogjakarta: ar-Ruzz Media, 2009), hlm. 177-178.
[2] Drs. Mulyadi, M. Pd. I., Diagnosis dan Pemecahan Kesulitan Belajar, (Malang: Shefa, 2003), hlm. 6.
[3] Drs. Mulyadi, M. Pd.I. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Khusus (Yogyakarta: Nuha Litera, 2008), hlm.131-132.
[4] Dra. Sutratinah Tirtonegoro, Anak Supernormal dan program pendidikannya, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1984), hlm. 132.
[5] Prof. Dr. H. Baharuddin. M. Pd. I. Loc. Cit., hlm. 178.
[6] Prof. H. Muzayyin Arifin, M. Ed., Kapita Selekta Pendidikan Islam, A. Syafi’i, ed. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009), hlm. 186-187.
[7] Dra. Sutratinah Tirtonegoro, Op. Cit., hlm. 133.
[8] Ibid., hlm. 133-134.
[9] Mulyono Abdurrahman, pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar (Jakarta: Rineka Rineka Cipta, 1999), hlm.30.
[10] Langveld, M. J. Paedagogik Teoritis – Sistematik (Tanpa Tahun dan Terbitan), hlm. 65.
[11] Dr. H. Farid Hasyim, M. Ag. dan Mulyono, MA., Bimbingan dan Konseling Religius, (Jogjakarta: ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 61.
[12] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pndidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), hlm. 21.
[13] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1992), hlm.18
[14] Dr. H. Farid Hasyim, M. Ag. dan Mulyono, MA. Op. Cit., hlm. 60.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar